Ban Susi Air Kempis, Wartawan Diusir

Mendengar informasi kalau pesawat Susi Air mendarat dengan kondisi ban kempis di Bandara Rendani Manokwari Papua Barat, Sabtu (14/8/2010) sekitar pukul 16.30 WIT, Abdul Muin bersama para wartawan setempat bergegas menuju lokasi. Namun alangkah arogannya, petugas maskapai itu malah melarang mereka mengambil gambar. "Kami mengambil gambar dari luar juga tidak boleh," ujar Muin yang diiyakan teman-temannya sesama kontributor televisi nasional.

Muin sebenarnya telah meminta izin Kepala Bandara Rendani Bambang Norobuntoro untuk mengambil gambar peristiwa ban kempis Susi Air itu. "Kepala Bandara sudah mengizinkan kami meliput seperti biasanya, tetapi orang-orang Susi Air yang tidak memperbolehkan," ujarnya.

Muin mengatakan tindakan petugas Susi Air terlalu arogan. Menurutnya, ban kempis pesawat dalam suatu penerbangan merupakan konsumsi publik.

Ia menegaskan masyarakat berhak mengetahui kondisi dan keseriusan maskapai dalam menjaga keamanan penerbangan. Menurut informasi yang diterimanya, pesawat terbang jenis karavan itu berangkat dari Teluk Bintuni, Papua Barat. Hingga kini, para jurnalis masih bertahan di Rendani.

Singkawang Diminta Waspada Malaria-DBD

Dinas Kesehatan Singkawang meminta masyarakat untuk mewaspadai penyakit malaria dan demam berdarah dengue (DBD) di saat musim pancaroba saat ini.

"Musim pancaroba yang masih berlangsung dikhawatirkan membuat nyamuk penyebab penyakit malaria dan demam berdarah kian merajalela," kata Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Singkawang, A Kismed, Sabtu (14/8/2010).

Musim pancaroba, kata dia, merupakan saat yang rawan dengan perkembangbiakan jentik nyamuk, karena itu dia mengimbau warga untuk waspada terhadap berbagai penyakit yang mungkin ditimbulkan.

Menurut Kismed, langkah klasik yang bisa ditempuh ialah dengan melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk serta 3M (menguras, menutup, mengubur) atau menabur bubuk abate. Penyakit malaria dan demam berdarah adalah dua penyakit yang disebabkan oleh nyamuk

Monyet Mangrove, Kemana Kamu Pergi?

Populasi monyet di sepanjang pantai hutan mangrove di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu dilaporkan punah menyusul kerusakan dan penyempitan hutan akibat abrasi pantai.

"Habitat ikan dan satwa lainnya yang berada di hutan mangrove saat ini keberadaannya juga tidak diketahui lagi," kata Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Mukomuko Wahyu Hidayat, Sabtu (14/8/2010).

Menurut dia, pihaknya sudah pernah menyampaikan secara lisan kondisi kerusakan hutan mangrove dan punahnya habitat di dalam hutan tersebut kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu.

"Menerima laporan yang kami sampaikan, mereka perlu melakukan peninjauan untuk memastikan. Tetapi setelah itu sampai sekarang belum ada tanggapan dan realisasi untuk upaya penyelamatan," katanya.

Dikatakannya, hutan mangrove masuk di dalam kawasan cagar alam daerah ini, sehingga keberadaannya tetap harus dijaga.

Ia mengakui bahwa KSDA Kabupaten Mukomuko belum memiliki kewenangan seperti kewenangan BKSDA Provinsi.

"Kewenangan kami hanya sebatas koordinasi dengan mereka sedangkan semua keputusan mereka yang memutuskan," jelasnya.

Menurut dia sebelum terjadi penyempitan hutan akibat abrasi pantai dan penebangan oleh oknum tertentu habitat monyet sangat banyak di kawasan cagar alam itu.

"Sekarang kami tidak tahu lagi kemana mereka, karena antara hutan, jalan, dan bibir pantai jarahnya sangat pendek sehingga sulit habitat hidup didalamnya," katanya.

Jembatan Kalahien Hampir Selesai

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan pembangunan jembatan Kalahien yang menghubungkan Kota Palangkaraya dengan Buntok saat ini sudah memasuki tahap akhir.

"Proses pembangunannya sudah mencapai sekitar 90 persen, apalagi proses pekerjaan tersulitnya sudah diselesaikan dengan baik yakni menyambung bentang pelengkung sepanjang 200 meter pada beberapa waktu lalu," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kalteng Ben Brahim di Palangkaraya, Sabtu (14/8/2010).

Menurut Ben, pihaknya terus melaksanakan pembangunan jembatan tersebut meskipun memasuki bulan Ramadhan, dan saat ini sudah mencapai tahapan penyelesaian bentang bawah serta pengecoran semen.

Ia juga mengatakan, pembangunan jembatan tersebut selama ini berjalan dengan baik, hanya saja ada sedikit kendala, karena tepi atau pinggiran sungai Barito terkikis air sehingga mengakibatkan longsor namun masih bisa diatasi.

"Kami membangun turap pada tepi-tepi sungai Barito yang berfungsi sebagai penahan kuatnya arus dan gelombang air yang menghantam langsung pinggiran sungai sebagai solusi dari masalah tersebut," ucap Ben.

Sementara itu, secara terpisah, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kalteng Ridwan Manurung menjelaskan, pembangunan jembatan tersebut sudah memasuki tahap akhir dan diperkirakan Oktober sudah bisa dipakai.